- harus memiliki tauhid yang lurus yang tidak bertentangan dengan ajaran agama islam
- menjalan kan ibadah dengan benar,,,tidak beribadah hanya sekedar ibadah akan tetapi tidak sesuai dgan tingkah laku orang yang sebagai mana menjalankan ibadah tersebut
- mempunyai akhlak yang mulia,,sebagai contoh kpada org yang di pimpinnya,,sehngga bisa mnjadi menjadi suri toladan yang baik bagi pengkutnya.
- memiliki wawasan pengetahuan yang luas,,baik pengetahuan agama maupun umum,,,sehingga pemimpin tersebut mengerti tentang agama dan negara bhkan budaya yang ada,,shngga pemimpin tersebut tidak merasa canggung ketika menghadapi permasalahn yang ada,,,
- memiliki fisik yang kuat,yang bisa di andalkan,,tidak lemah dan tidak cepat mengeluh,,,,
DUNIA PENDIDIKAN
Minggu, 21 April 2013
karakter pemimpin yang baik dari segi agama islam,,ada 5 karakter atau ciri yang harus di miliki oleh pemimpin itu tersebut diantaranya adalah:
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR MODEL PEMBELAJARAN THINK-TALK-WRITE (TTW)
MODEL PEMBELAJARAN TTW
Menurut W. Gulo (2002:3), strategi belajar
mengajar merupakan rancangan dasar bagi seorang guru tentang cara ia membawakan
pengajarannya di kelas secara bertanggung jawab. Hal ini merupakan salah satuu
komponen dari sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar
mengajar secara optimal.
Menurut W. Gulo (2002:23), peran peserta
didik di dalam proses belajar mengajar ialah berusaha secara aktif untuk
mengembangkan dirinya di bawah bimbingan guru. Kegiatan ini disebut kegiatan
belajar. Guru hanya menciptakan situasi yang memaksimalkan kegiatan belajar
peserta didik. Kegiatan pendidikan mengalami kegagalan kalau kegiatan mengajar
tidak menghasilkan kegiatan belajar. Oleh karena itu, fungsi belajar pada
peserta didik sangat menentukan keberhasilan pendidikan.
Think-Talk-Write (TTW) yang diperkenalkan
oleh Huinker & Laughlin, pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara
dan menulis. Alur kemajuan TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam
berpikir/berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya
berbicara den membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Dalam hal
ini siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW)
pada dasarnya menggunakan strategi pembelajaran kooperatif sehingga dalam
pelaksanaanya, model ini membagi sejumlah siswa kedalam kelompok kecil secara
heterogen agar suasana pembelajaran lebih efektif. Dalam pelaksanaan
pembelajaran yang menggunakan kelompok, maka pembelajaran TTW juga mengacu
kepada pembelajaran kooperatif yang dapat mengkonstruksi penguasaan konsep
siswa (Dipdip,2007:16).
Tahapan-tahapan yang dilakukan dengan
menggunakan model pembelajaran TTW dalam pembelajaran fisika akan diuraikan
sebagai berikut:
1) Pikir (Think)
Aktivitas berpikir siswa dapat dilihat pada
saat dalam pembelajaran terdapat kegiatan pembelajaran yang memancing siswa
untuk memikirkan sebuah permasalahan fisika baik itu kegiatan demonstrasi yang
dilakukan oleh guru atau siswa, pengamatan gejala fisis atau berbagai peristiwa
dalam kehidupan sehari-hari. proses membaca buku paket atau handout fisika
serta berbagai macam artikel yang berhubungan dengan pokok bahasan. Setelah itu
siswa mulai memikirkan solusi dari permasalahan tersebut dengan cara
menuliskannya di buku catatan atau handout ataupun mengingat bagian bagian yang
difahami serta tidak difahaminya.
2) Bicara (Talk)
Siswa melakukan komunikasi dengan teman
sekelompok untuk mendapatkan solusi bersama dari solusi yang telah dipikirkan
sebelumnya oleh setiap individu kemudian akan dibahas dalam diskusi kelas.
Masing-masing kelompok belajar terdiri dari 5-6 orang.
3) Tulis (Write)
Siswa menuliskan hasil
diskusi itu dalam catatannya (buku catatan, handout dan atau LKS) baik berupa
definisi istilah maupun kejadian fisis yang terkait dengan persamaan-persamaan
fisis.
Kata kunci: hasil
belajar, model pembelajaran kooperatif TTW
Pada umumnya mata pelajaran IPS geografi sering
diidentikan dengan pelajaran hafalan. Hal ini dikarenakan pembelajaran IPS
geografi selama ini lebih banyak membuat siswa menghafal sebagian besar konsep,
tanpa adanya upaya untuk memahami konsep melalui pengalaman belajar lain yang
mengakibatkan siswa tidak memahami materi secara mendalam sehingga hasil
belajar IPS geografi siswa cenderung rendah. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, maka perlu pemilihan model pembelajaran yang tepat yang memperhatikan
karakteristik siswa, materi pelajaran, tujuan materi, dan waktu yang tersedia
untuk menyampaikan materi tersebut. Adapun model pembelajaran yang efektif
digunakan oleh guru dengan karakteristik yang telah dipaparkan tersebut adalah
model pembelajaran kooperatif model Think-Talk-Write (TTW). Model TTW
ini terdiri dari tiga tahapan yang dimulai dengan aktivitas berfikir melalui
membaca, mengomunikasikan dan menuliskan ide, serta mendiskusikan sesama teman
yang diberikan oleh guru dengan seluas-luasnya, sehingga anak dapat membangun
pemahaman sendiri sesuai kemampuannya, kemudian belajar mengaktualisasikan
pemahamannya dan bersosialisasi dalam bentuk diskusi kelompok, kemudian pada
tahap akhir siswa mampu mengomunikasikan idenya dengan menuliskan pemahaman
yang dibangunnya dalam bentuk tulisan. Setiap tahapan dalam model ini mampu
mengkonstruk kemampuan siswa memahami konsep hidrosfer.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Model Pembelajaran TTW
terhadap hasil belajar IPS Geografi pada Kompetensi Dasar Hidrosfer. Penelitian
ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) yang
menggunakan rancangan Pretest-posttest Control Group Design. Subjek
penelitian terdiri dari satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol, siswa
kelas VII MTs Surya Buana Malang. Instrumen penelitian berupa tes dengan teknik
analisis data menggunakan uji-t dengan SPSS 13.00 for Windows.
Hasil
analisis data menunjukkan bahwa hasil belajar IPS Geografi pada Kompetensi
Dasar Hidrosfer siswa yang menggunakan Model Pembelajaran TTW lebih
baik daripada siswa yang tidak menggunakan Model Pembelajaran TTW. Dengan
demikian dapat dikemukakan bahwa penggunaan Model Pembelajaran TTW berpengaruh
pada hasil belajar IPS Geografi siswa.
Saran untuk
guru bidang studi IPS Geografi adalah menjadikan Model Pembelajaran TTW sebagai
alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan saran
untuk peneliti selanjutnya adalah mengujicobakan Model Pembelajaran TTW yang
dikombinasikan dengan media pembelajaran yang variatif pada materi berbeda dan
jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi sehingga diperoleh manfaat yang
lebih besar dari Model Pembelajaran TTW.
Perbedaan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Think-Talk-Write (TTW) Dan Model Direct Instruction Pada Pokok Bahasan Layanan Internet
Elmasari, Yandria. 2011. Perbedaan Hasil
Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Think-Talk-Write (TTW) Dan Model Direct Instruction Pada Pokok Bahasan Layanan Internet
Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Gondang Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan
Pendidikan Teknik Informatika. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.
Pembimbing: (I) Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.pd, (II) Dyah Lestari, S.T.,
M.Eng.
Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif think-talk-write (ttw), model direct instruction, dan hasil belajar.
Berdasarkan penjajakan langsung di sekolah
tempat penelitian ini diketahui bahwa SMP Negeri 1 Gondang dalam pembelajaran khusunya pelajaran TIK masih diterapkan pembelajaran langsung (Direct Instruction) yaitu pembelajaran yang bertumpu pada kemampuan guru dalam
menyampaikan materi sehingga siswa hanya sebatas sebagai penerima materi dan
hasil belajar yang didapat kurang maksimal. Khususnya pada Kompetensi Dasar
(KD) “Layanan Internet”. Dengan penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Think-Talk-Write (TTW)
diharapkan siswa lebih aktif dalam menguasai pelajaran sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berkelompok. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Kooperatif TTW
lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran Langsung pada siswa kelas IX SMPN 1 Gondang
Tulungagung.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah
rancangan eksperimental semu (quasy experimental design ) dengan
Pretest-Posttest Group Desain. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling
kelompok (kluster) yang terdiri dari dua kelas, yaitu: kelas IXB (42 siswa)
sebagai kelas eksperimen dan kelas IXE (42 siswa) sebagai kelas kontrol. Kelas
eksperimen adalah kelas yang diajar menggunakan model
Kooperatif TTW dan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model DI (pembelajaran langsung).
Instrumen penelitian terdiri dari instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran.
Teknik analisis data menggunakan analisis statistik kuantitatif untuk
menganalisis data kemampuan awal siswa dan hasil belajar siswa yang terdiri
dari uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji
hipotesis.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada
perbedaan nilai hasil belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen
dengan siswa kelas kontrol, berdasarkan hasil uji-t yang memperoleh thitung. (4,546)
> ttabel (1,682). Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari
hasil belajar siswa kelas kontrol. Diperoleh nilai rata rata hasil belajar
kelas eksperimen (81,45) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar kelas
kontrol (75,12) dengan prosentase ketuntasan belajar 88% pada kelas eksperimen
dan 64,3% pada kelas kontrol.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran Kooperatif
tipe TTW dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar Layanan
Internet di SMPN 1 Gondang Tulungagung.
Kelebihan pembelajaran TTW
(Think Talk Write)
Pembelajaran ini dimulai dengan
berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi),
hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat
laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah:
a) informasi,
b) kelompok
(membaca-mencatatat-menandai),
c) presentasi,
d) diskusi,
e) melaporkan.
MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA “REALISTIK “
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat
mengaplikasikan konsep. Siswa mengalami kesulitan matematika di kelas.
Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan
siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan
sehari-hari.
Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR). Karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, Model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif, dan keterkaitan (intertwinment). Berkaitan dengan hal itu, tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara teoretis pembelajaran matematika realistik, pengimplementasian pembelajaran MR, serta kaitan antara pembelajaran MR dengan pengertian. Pembelajaran Matematika Realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika. Dengan demikian, pembelajaran Matematika Realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa.
Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR). Karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, Model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif, dan keterkaitan (intertwinment). Berkaitan dengan hal itu, tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara teoretis pembelajaran matematika realistik, pengimplementasian pembelajaran MR, serta kaitan antara pembelajaran MR dengan pengertian. Pembelajaran Matematika Realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika. Dengan demikian, pembelajaran Matematika Realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa.
1.2 Tujuan
v Untuk
memaparkan secara teoritis pembelajaran Matematika realistic
v Unuk
pengimplementasian pembelajaran Matematika realistic
v Serta
kaitan antara pemelajaran Matematika realistic dengan pengerian.
1.3 Manfaat
Sangat bermanfat untuk siswa,
agar siswa dapa menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika
,sehingga siswa memiliki pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Matematika Realistic ( MR)
Matematika
Realistik (MR) yang dimaksudkan dalam hal ini adalah matematika sekolah yang
dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik
awal pembelajaran. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya
konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Pembelajaran MR di
kelas berorientasi pada karakteristik-karakteristik RME, sehingga siswa
mempunyai kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika atau
pengetahuan matematika formal. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan
mengaplikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari
atau masalah dalam bidang lain. Pembelajaran ini sangat berbeda dengan
pembelajaran matematika selama ini yang cenderung berorientasi kepada memberi informasi
dan memakai matematika yang siap pakai untuk memecahkan masalah-masalah.
Karena
matematika realistik menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak
pembelajaran maka situasi masalah perlu diusahakan benar-benar kontektual atau
sesuai dengan pengalaman siswa, sehingga siswa dapat memecahkan masalah dengan
cara-cara informal melalui matematisasi horisontal. Cara-cara informal yang
ditunjukkan oleh siswa digunakan sebagai inspirasi pembentukan konsep atau
aspek matematiknya ditingkatkan melalui matematisasi vertikal. Melalui proses
matematisasi horisontal-vertikal diharapkan siswa dapat memahami atau menemukan
konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal).
2.2 Pembelajaran Matematika Realistik (
MR) menurut pandangan Konstruktivis
Pembelajaran
matematika menurut pandangan konstruktivis adalah memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan
kemampuan sendiri melalui proses internalisasi. Guru dalam hal ini berperan
sebagai fasilitator. Menurut Davis (1996), pandangan konstruktivis dalam
pembelajaran matematika berorientasi pada: (1) pengetahuan dibangun dalam
pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi, (2) dalam pengerjaan
matematika, setiap langkah siswa dihadapkan kepada apa, (3)
informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu
kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan, dan
menginterpretasikan pengalamannya, dan (4) pusat pembelajaran adalah bagaimana
siswa berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis.
Konstruktivis
ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi
suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Konstruktivisme ini oleh
Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan
Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998). Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky
(Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.
Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat
perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan
masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan
sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau
melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Scaffolding
merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal
pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk
mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya
(Slavin, 1997). Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada
siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa
petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah
pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan
siswa itu belajar mandiri.
Pendekatan
yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial)
disebut pendekatan konstruktivis sosial. Filsafat konstruktivis sosial
memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi
matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem
posing) oleh manusia (Ernest, 1991). Dalam pembelajaran matematika, Cobb,
Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism).
Siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada
pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon
masalah yang diberikan. Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat
sesuai dengan karakteristik RME. Konsep ZPD dan Scaffolding dalam
pendekatan konstruktivis sosio, di dalam pembelajaran MR disebut dengan
penemuan kembali terbimbing (guided reinvention). Menurut
Graevenmeijer (1994) walaupun kedua pendekatan ini mempunyai kesamaan tetapi
kedua pendekatan ini dikembangkan secara terpisah. Perbedaan keduanya adalah
pendekatan konstruktivis sosio merupakan pendekatan pembelajaran yang bersifat
umum, sedangkan pembelajaran MR merupakan pendekatan khusus yaitu hanya dalam
pembelajaran matematika.
2.3 Bagaimana Implementasi Pembelajaran MR?
Untuk
memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran MR, berikut ini diberikan
contoh pembelajaran pecahan di sekolah dasar (SD). Pecahan di SD diinterpretasi
sebagai bagian dari keseluruhan. Interpretasi ini mengacu pada pembagian unit
ke dalam bagian yang berukuran sama. Dalam hal ini sebagai kerangka kerja siswa
adalah daerah, panjang, dan model volume. Bagian dari keseluruhan juga dapat
diinterpretasi pada ide pempartisian suatu himpunan dari objek diskret.
Dalam
pembelajaran, sebelum siswa masuk pada sistem formal, terlebih dahulu siswa
dibawa ke “situasi” informal. Misalnya, pembelajaran pecahan dapat diawali
dengan pembagian menjadi bagian yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga
tidak terjadi loncatan pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep
matematika (pengetahuan matematika formal). Setelah siswa memahami pembagian
menjadi bagian yang sama, baru diperkenalkan istilah pecahan. Ini sangat
berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan MR) di mana siswa sejak awal dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa
jenis pecahan.
Jadi,
pembelajaran MR diawali dengan fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru
diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri.
Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah sehari-hari atau dalam bidang
2.4 Kaitan antara
Pembelajaran MR dengan Pengertian
Kalau
kita perhatikan para guru dalam mengajar matematika senantiasa terlontar kata
“bagaimana, apa mengerti ?” Siswa pun biasanya buru-buru menjawab mengerti atau
sudah. Siswa sering mengeluh seperti berikut, “Pak ... pada saat di kelas saya
mengerti penjelasan Bapak, tetapi begitu sampai di rumah saya lupa”, atau “Pak
... pada saat di kelas saya mengerti contoh yang Bapak berikan , tetapi saya
tidak bisa menyelesaikan soal-soal latihan”
Apa
yang dialami oleh siswa pada ilustrasi di atas menunjukkan bahwa siswa belum
mengerti atau belum mempunyai pengetahuan konseptual. Siswa yang mengerti
konsep atau mempunyai pengetahuan konseptual dapat menemukan kembali konsep
yang mereka lupakan.
Mitzel
(1982) mengatakan bahwa, hasil belajar siswa secara langsung dipengaruhi oleh
pengalaman siswa dan faktor internal. Pengalaman belajar siswa dipengaruhi oleh
unjuk kerja guru. Bila siswa dalam belajarnya bermakna atau terjadi kaitan
antara informasi baru dengan jaringan representasi maka siswa akan mendapatkan
suatu pengertian.
Mengembangkan pengertian merupakan tujuan pengajaran matematika. Karena tanpa
pengertian orang tidak dapat mengaplikasikan prosedur, konsep, ataupun proses.
Dengan kata lain, matematika dimengerti bila representasi mental adalah bagian
dari jaringan representasi (Hiebert dan Carpenter , 1992).
Umumnya,
sejak anak-anak orang telah mengenal ide matematika. Melalui pengalamannya
dalam kehidupan sehari-hari mereka mengembangkan ide-ide yang lebih kompleks,
misalnya tentang bilangan, pola, bentuk, data, ukuran dsb. Anak sebelum sekolah
belajar ide matematika secara alamiah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa datang
ke sekolah bukanlah dengan kepala “kosong” yang siap diisi dengan apa saja.
Pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih bermakna bila guru mengaitkan dengan
apa yang telah diketahui anak.
Pengertian
siswa tentang ide matematik dapat dibangun melalui sekolah, jika mereka secara
aktif mengaitkan dengan pengetahuan mereka. Hanna dan Yackel (NCTM, 2000)
mengatakan bahwa belajar dengan pengertian dapat ditingkatkan melalui interaksi
kelas. Percakapan kelas dan interaksi sosial dapat digunakan untuk
memperkenalkan keterkaitan di antara ide-ide dan mengorganisasikan pengetahuan
kembali.
Pembelajaran
MR memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan
mengkonstruksi konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realistik yang
diberikan oleh guru. Situasi realistik dalam masalah memungkinkan siswa
menggunakan cara-cara informal untuk menyelesaikan masalah. Cara-cara informal
siswa yang merupakan produksi siswa memegang peranan penting dalam penemuan
kembali dan pengkonstruksian konsep. Hal ini berarti informasi yang diberikan
kepada siswa telah dikaitkan dengan skema (jaringan representasi) anak. Melalui
interaksi kelas keterkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat sehingga
pengertian siswa tentang konsep yang mereka konstruksi sendiri menjadi kuat.
Dengan demikian, pembelajaran MR akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi
dengan pengertian siswa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan
uraian di atas, maka sebagai simpulan dapat disampaikan beberapa hal sebagai
berikut.
Matematika
Realistik (MR) merupakan matematika sekolah yang dilaksanakan dengan
menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran.
Pembelajaran MR menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak
pembelajaran, dan melalui matematisasi horisontal-vertikal siswa diharapkan
dapat menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengetahuan
matematika formal. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan menerapkan
konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah
dalam bidang lain. Dengan kata lain, pembelajaran MR berorientasi pada
matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience)
dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari (everydaying
mathematics), sehingga siswa belajar dengan bermakna (pengertian).
Pembelajaran
MR berpusat pada siswa, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator,
sehingga memerlukan paradigma yang berbeda tentang bagaimana siswa belajar,
bagaimana guru mengajar, dan apa yang dipelajari oleh siswa dengan paradigma
pembelajaran matematika selama ini. Karena itu, perubahan persepsi guru tentang
mengajar perlu dilakukan bila ingin mengimplementasikan pembelajaran matematika
realistik.
3.2 Saran
Sesuai
dengan simpulan di atas, maka disarankan: (1) kepada pakar atau pencinta
pendidikan matematika untuk melakukan penelitian-penelitian yang berorientasi
pada pembelajaran MR sehingga diperoleh global theory pembelajaran MR
yang sesuai dengan sosial budaya Indonesia, dan (2) kepada guru-guru matematika
untuk mencoba mengimplementasikan pembelajaran MR secara bertahap, misalnya
mulai dengan memberikan masalah-masalah realistik untuk memotivasi siswa
menyampaikan pendapat.
DAFTAR PUSTAKA
Atwel, Bleicher & Cooper.1998. “The
Construction of The Social Contex of Mathematics Clasroom : A Sociolonguistic Analysis”.
Dalam Journal for Research in Mathematics Education. Vol 29 No.1 January
1998.hal 63-82
Soedjadi. 2000. “Nuansa Kurikulum
Matematika Sekolah Di Indonesia”.
Dalam Majalah Ilmiah Himpunan Matematika Indonesia (Prosiding Konperensi
Nasional Matematika X ITB, 17-20 Juli 2000)
Slavin,R. 1997. Educational Psychology
Theory and Practice. Fifth Edition. Boston
: Allyn and Bacon.
Slettenhaar. 2000. “Adapting Realistic
Mathematics Education in the Indonesian Context”. Dalam Majalah Ilmiah
Himpunan Matematika Indonesia
(Prosiding Konperensi Nasional Matematika X ITB, 17-20 Juli 2000
Streefland,L. 1991. Realistic
Mathematics Education in Primary School. Freudenthal Institute. Utrecht.
Peluang Usaha Budidaya Tomat
Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting,
tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Tomat sangat
bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan
untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung karbohidrat,
protein, lemak dan kalori. Buah tomat juga adalah komoditas yang multiguna
berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan,
minuman, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik, obat-obatan dan
bahan baku industri saus. Dengan tehnik budidaya tomat yang baik
diharapkan kualitas dan kuntitas produksi tomat dapat ditingkatkan sehingga
dapat dijadikan sebagai sebuah peluang usaha yang menjanjikan.
Klasifikasi tanaman tomat adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Lycopersicorn
Spesies : Lycopersicon esculentum Mill.
Dari sekian banyak varietas
tomat yang ada, yang banyak ditanam petani adalah tomat varietas ratna,
berlian, precious 206, kingkong dan intan. Sedangkan dari hasil survei yang
telah dilakukan di lapangan varietas yang digunakan adalah varietas Artaloka.
Syarat Tumbuh Tanaman Tomat
Tanaman tomat dapat tumbuh disemua tempat dari
dataran rendah sampai datarn tinggi. Hanya saja di daerah basah atau curah
hujan tinggi pertumbuhannya kurang baik. Disamping buahnya banyak diserang
panyakit, seperti penyakit cendawan dan sebangsanya, sehingga untuk daerah
basah dan berudara lembab dianjurkan menanam tomat pada musim kemarau.
Selanjutnya tanaman tomat tidak tahan terhadap hujan yang lebat dan tidak suka
daerah yang selalu berawan. Tanaman tomat menghendaki iklim kering dengan suhu
siang 18 -27 oC dan malam hari 15 -20 oC.
Tanaman tomat tidak cocok tumbuh pada tanah yang
tergenang air atau tanah yang becek. Untuk pertumbuhan yang baik, tanaman tomat
membutuhkan tanah yang gembur dengan pH 5 -6, tanah sedikit gembur dan banyak
mengandung humus serta pengairan yang cukup mulai tanam sampai waktu panen.
Budidaya tanaman tomat membutuhkan penyinaran penuh
sepanjang hari untuk produksi yang menguntungkan, tetapi sinar matahari yang
terik tidak disukai. Selanjutnya bahwa sinar matahari yang dikehendaki tanaman
tomat adalah minimal 8 jam per hari dan curah hujan pada kisaran 750 -1.250
mm/tahun.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah budidaya tomat dilakukan dengan
sistem semi konvensional (10 -15 cm) yang berguna untuk mencegah terjadinya
penguapan yang berlebihan. Lahan yang telah diolah diberikan pupuk kandang.
Pembibitan dan Penanaman
Pembibitan dilakukan dengan menggunakan
perbandingan 2 bagian tanah dan 1 bagian pupuk kandang. Setelah 3-4 minggu
pembibitan (4 helai daun) maka bibit siap dipindahkan kelapangan. Penanaman
dilakukan dengan jarak tanam 0,60 m x 0,75 m.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan untuk menjaga keseimbangan hara
didalam tanah sehingga dapat mencapai hasil produksi yang optimal. Selain
dilakukan pemupukan melalui tanah maka tanaman tomat juga dilakukan pemupukan
melalui daun. Pemupukan melalui daun mempunyai kelebihan jika dibandingkan
pemupukan melalui tanah, yaitu larutan hara tanaman yang diberikan akan segera
terserap dengan sempurna baik hara makro maupun hara mikro. Umumnya pupuk yang
diberikan melalui daun terdiri dari unsur hara makro dan unsur hara mikro.
Pemberian pupuk melalui daun akan menghindari
persaingan pengambilan unsur hara antara tanaman tomat dengan tanaman lainnya
seperti tanaman pengganggu. Pemupukan melalui daun merupakan penambahan dan
penyempurnaan pemberian pupuk melalui tanah. Hal ini terutama pada keadaan
tertentu, misalnya dalam keadaan tanaman kurang air, maka pemberian pupuk daun
akan lebih baik, karena unsur hara yang terdapat ditanah kurang tersedia karena
proses kelarutannya yang kecil.
Selain keuntungannya, tentu ada juga kekurangannya
dari pupuk ini antara lain bila diberikan dalam jumlah yang berlebihan dapat
menyebabkan keracunan bagi tanaman. Tidak baik bila diberikan dalam kondisi
hujan karena akan terjadi pencucian unsur hara sebelum diserap oleh tanaman.
Konsentrasi pupuk yang digunakan harus sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman,
karena jika berlebihan akan menyebabkan tanaman menjadi layu yang akan
menyebabkan kematian bagi tanaman.
Dalam budidaya tomat, pengaplikasian hara melalui
daun, yang perlu diperhatikan antara lain konsentrasi pupuk dan waktu pemberian
yang tepat. Menyemprotan pupuk daun harus dihentikan pada saat tunas baru
muncul sebab tunas muda ini sangat peka terhadap pupuk terlebih jika
konsentrasi melebihi konsentrasi anjuran.
Pupuk yang digunakan untuk budidaya tanaman tomat
adalah urea, TSP dan KCl dengan dosis masing-masing 250 kg/ha, 150 kg/ha dan
150 kg/ha. Kemudian bibit umur 2 minggu setelah tanam dilakukan penyemprotan
pupuk cair Green Agro dan dilanjutkan 14 hari kemudian hingga akhir panen
keempat. Interval waktu pemberian pupuk cair ini dianjurkan 1 -2 minggu sekali
dengan konsentrasi 20 ml/liter air untuk tanaman semusim.
Kandungan hara pupuk cair ini adalahsebagai berikut
:N = 8900 Mg/L, P2O2 = 7000 Mg/L, K2O = 26.500
Mg/L, Mg = 2900 Mg/L, Ca = 7850 Mg/L, Fe = 4000 Mg/L, Mn = 155 Mg/L, Bo = 55
Mg/L, Cu = 55 Mg/L, Zn = 60 Mg/L dan Mo = 3 Mg/L.
Pemeliharaan
Pemeliharaan, meliputi penyiraman, penyulaman,
pemasangan ajir, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan
menggunakan Decis dan Dithane M-45.
Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada saat buah telah memenuhi
kriteria panen yaitu buah telah berwarna kemerah-merahan sampai merah dan
bentuknya padat. Panen dilakukan 4 kali dengan interval waktu 5 kali sehari.
Buah siap dikemas dan dipasarkan.
Hasil Pencarian Anda di
http://BinaUKM.com :
budidaya tomat (18),
tomat ratna (7), klasifikasi tomat
(6), budidaya tanaman tomat
(5), usaha budidaya tomat
(5), pemupukan tomat
(4), budidaya usaha tomat
(4), pembibitan tomat
(4), pupuk yang bagus
untuk tomat (4), prospek bisnis
tanaman tomat (4), Bisnis tomat (3), syarat tumbuh tomat
(3), keunggulan
tomat varietas ratna (3), pemupukan pada tomat
(3), prospek budidaya tomat
(3), tehnikbudidayatomat
(2), tanaman tomat
varietas ratna (2), proses
menanam dan memproduksi tomat (2), pembibitan tanaman
tomat (2), konsentrasi pupuk Ca yang cocok untuk tanaman tomat
(2), komposisi pemberian pupuk cair pada tanaman tomat
(2), kandungan hara tanaman
(2), KONSENTRASI
PUPUK MIKRO LEWAT DAUN (2), klasifikasi tanaman
tomat (2), pupuk
yang digunakan pada tanaman sayur (2), makalah budidaya tomat
(2), Pupukyang
paling bagus untuk tanaman (2), makalah
pemupukan pada tanaman tomat (2), panen
dalam usaha budidaya tanaman tomat (2), interval pemberian
pupuk (2), usaha tomat (2), usaha budidaya
tanaman tomat (2), budi daya tomat
(2), PELUANG USAHA
budidaya tomat (2), budidaya tomat buah
(2), pengolahan
tanah tanaman tomat (2), ph tanah
terbaik untuk tanaman tomat (1), pupuk daun sampurna
(1), pupuk budidaya tomat
(1), pupuk kandang menguntungkan bagi tanaman melon karena
(1), Pupuk daun pada
tanaman tomat (1), pertumbuhan tomat
yang baik (1), pupuk kandang menguntungkan bagi tanaman melon sebagai
(1), pertumbuhan tomat
sayur (1), pertumbuhan tomat
(1), tanah yang baik
buat tomat (1), perkebunan tomat
(1), peper budidaya
tanaman cabei (1), proses
produksi terhadap tanaman tomat (1), ph tanah yng
cocok untuk tomat (1), produksi pada
tanaman tomat (1), prospek agribisnis
tomat (1), prospek bisnis
budi daya tomat (1), prospek bisnis
pertanian tomat (1), prospek ekonomi
budidaya tomat (1), produktifitas tanaman kobis dengan pupuk kandang
(1), produksi tanaman tomat
(1), prospek usaha
tanaman tomat (1), PROSPEK TANAM TOMAT
(1), Prospek Usaha Tomat
(1), produksi pertanian
tomat (1), pupok
yangbaik utok tanama tomat (1), pupuk apa yg baik untuk budidaya tomat dan cabai
(1), penyinaran sepanjang
hari (1), pupuk apa yg
baik untuk tomat (1), pupuk berlebihan
tanaman layu (1), Pupuk
kimia apa yang co2k untuk tanaman cabe (1), zat yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tomat
(1), unsur hara tanaman
tomat (1), unsur apa yang terkandung dalam air hujan sehingga baik
untuk tanaman (1), umur tomat varietas
ratna (1), umur panen varietas
ratna (1), Trik Pupuk
kimia buat tanaman cabe (1), tomat#hl=id (1), tomat varietas kingkong
(1), tomat
varietas berlian dan
Langganan:
Postingan (Atom)