Minggu, 21 April 2013

karakter pemimpin yang baik dari segi agama islam,,ada 5 karakter atau ciri yang harus di miliki oleh pemimpin itu tersebut diantaranya adalah:
  1. harus memiliki tauhid yang lurus yang tidak bertentangan dengan ajaran agama islam
  2. menjalan kan ibadah dengan benar,,,tidak beribadah hanya sekedar ibadah akan tetapi tidak sesuai dgan tingkah laku orang yang sebagai mana menjalankan ibadah tersebut
  3. mempunyai akhlak yang mulia,,sebagai contoh kpada org yang di pimpinnya,,sehngga bisa mnjadi menjadi suri toladan yang baik bagi pengkutnya.
  4. memiliki wawasan pengetahuan yang luas,,baik pengetahuan agama maupun umum,,,sehingga pemimpin tersebut mengerti tentang agama dan negara bhkan budaya yang ada,,shngga pemimpin tersebut tidak merasa canggung ketika menghadapi permasalahn yang ada,,,
  5. memiliki fisik yang kuat,yang bisa di andalkan,,tidak lemah dan tidak cepat mengeluh,,,,

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR MODEL PEMBELAJARAN THINK-TALK-WRITE (TTW)


MODEL PEMBELAJARAN TTW

Menurut W. Gulo (2002:3), strategi belajar mengajar merupakan rancangan dasar bagi seorang guru tentang cara ia membawakan pengajarannya di kelas secara bertanggung jawab. Hal ini merupakan salah satuu komponen dari sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara optimal.

Menurut W. Gulo (2002:23), peran peserta didik di dalam proses belajar mengajar ialah berusaha secara aktif untuk mengembangkan dirinya di bawah bimbingan guru. Kegiatan ini disebut kegiatan belajar. Guru hanya menciptakan situasi yang memaksimalkan kegiatan belajar peserta didik. Kegiatan pendidikan mengalami kegagalan kalau kegiatan mengajar tidak menghasilkan kegiatan belajar. Oleh karena itu, fungsi belajar pada peserta didik sangat menentukan keberhasilan pendidikan.

Think-Talk-Write (TTW) yang diperkenalkan oleh Huinker & Laughlin, pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara dan menulis. Alur kemajuan TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir/berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara den membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Dalam hal ini siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) pada dasarnya menggunakan strategi pembelajaran kooperatif sehingga dalam pelaksanaanya, model ini membagi sejumlah siswa kedalam kelompok kecil secara heterogen agar suasana pembelajaran lebih efektif. Dalam pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan kelompok, maka pembelajaran TTW juga mengacu kepada pembelajaran kooperatif yang dapat mengkonstruksi penguasaan konsep siswa (Dipdip,2007:16).




Tahapan-tahapan yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran TTW dalam pembelajaran fisika akan diuraikan sebagai berikut:

1) Pikir (Think)
Aktivitas berpikir siswa dapat dilihat pada saat dalam pembelajaran terdapat kegiatan pembelajaran yang memancing siswa untuk memikirkan sebuah permasalahan fisika baik itu kegiatan demonstrasi yang dilakukan oleh guru atau siswa, pengamatan gejala fisis atau berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. proses membaca buku paket atau handout fisika serta berbagai macam artikel yang berhubungan dengan pokok bahasan. Setelah itu siswa mulai memikirkan solusi dari permasalahan tersebut dengan cara menuliskannya di buku catatan atau handout ataupun mengingat bagian bagian yang difahami serta tidak difahaminya.

2) Bicara (Talk)
Siswa melakukan komunikasi dengan teman sekelompok untuk mendapatkan solusi bersama dari solusi yang telah dipikirkan sebelumnya oleh setiap individu kemudian akan dibahas dalam diskusi kelas. Masing-masing kelompok belajar terdiri dari 5-6 orang.

3) Tulis (Write)
Siswa menuliskan hasil diskusi itu dalam catatannya (buku catatan, handout dan atau LKS) baik berupa definisi istilah maupun kejadian fisis yang terkait dengan persamaan-persamaan fisis.
Kata kunci:  hasil belajar, model pembelajaran kooperatif TTW
            Pada umumnya mata pelajaran IPS geografi sering diidentikan dengan pelajaran hafalan. Hal ini dikarenakan pembelajaran IPS geografi selama ini lebih banyak membuat siswa menghafal sebagian besar konsep, tanpa adanya upaya untuk memahami konsep melalui pengalaman belajar lain yang mengakibatkan siswa tidak memahami materi secara mendalam sehingga hasil belajar IPS geografi siswa cenderung rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu pemilihan model pembelajaran yang tepat yang memperhatikan karakteristik siswa, materi pelajaran, tujuan materi, dan waktu yang tersedia untuk menyampaikan materi tersebut. Adapun model pembelajaran yang efektif digunakan oleh guru dengan karakteristik yang telah dipaparkan tersebut adalah model pembelajaran kooperatif model Think-Talk-Write (TTW). Model TTW ini terdiri dari tiga tahapan yang dimulai dengan aktivitas berfikir melalui membaca, mengomunikasikan dan menuliskan ide, serta mendiskusikan sesama teman yang diberikan oleh guru dengan seluas-luasnya, sehingga anak dapat membangun pemahaman sendiri sesuai kemampuannya, kemudian belajar mengaktualisasikan pemahamannya dan bersosialisasi dalam bentuk diskusi kelompok, kemudian pada tahap akhir siswa mampu mengomunikasikan idenya dengan menuliskan pemahaman yang dibangunnya dalam bentuk tulisan. Setiap tahapan dalam model ini mampu mengkonstruk kemampuan siswa memahami konsep hidrosfer.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Model Pembelajaran TTW terhadap hasil belajar IPS Geografi pada Kompetensi Dasar Hidrosfer. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) yang menggunakan rancangan Pretest-posttest Control Group Design. Subjek penelitian terdiri dari satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol, siswa kelas VII MTs Surya Buana Malang. Instrumen penelitian berupa tes dengan teknik analisis data menggunakan uji-t dengan SPSS 13.00 for Windows.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil belajar IPS Geografi pada Kompetensi Dasar Hidrosfer siswa yang menggunakan Model Pembelajaran TTW   lebih baik daripada siswa yang tidak menggunakan Model Pembelajaran TTW. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa penggunaan Model Pembelajaran TTW berpengaruh pada hasil belajar IPS Geografi siswa.
Saran untuk guru bidang studi IPS Geografi adalah menjadikan Model Pembelajaran TTW sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan saran untuk peneliti selanjutnya adalah mengujicobakan Model Pembelajaran TTW yang dikombinasikan dengan media pembelajaran yang variatif pada materi berbeda dan jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi sehingga diperoleh manfaat yang lebih besar dari Model Pembelajaran TTW.

Perbedaan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Think-Talk-Write (TTW) Dan Model Direct Instruction Pada Pokok Bahasan Layanan Internet

Elmasari, Yandria. 2011. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Think-Talk-Write (TTW) Dan Model Direct Instruction Pada Pokok Bahasan Layanan Internet Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Gondang Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Informatika. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.pd, (II) Dyah Lestari, S.T., M.Eng.
 Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif think-talk-write (ttw), model direct instruction, dan hasil belajar.
Berdasarkan penjajakan langsung di sekolah tempat penelitian ini diketahui bahwa SMP Negeri 1 Gondang dalam pembelajaran khusunya pelajaran TIK masih diterapkan pembelajaran langsung (Direct Instruction) yaitu pembelajaran yang bertumpu pada kemampuan guru dalam menyampaikan materi sehingga siswa hanya sebatas sebagai penerima materi dan hasil belajar yang didapat kurang maksimal. Khususnya pada Kompetensi Dasar (KD) “Layanan Internet”. Dengan penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Think-Talk-Write (TTW) diharapkan siswa lebih aktif dalam menguasai pelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berkelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Kooperatif TTW lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran Langsung pada siswa kelas IX SMPN 1 Gondang Tulungagung.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental semu (quasy experimental design ) dengan Pretest-Posttest Group Desain. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling kelompok (kluster) yang terdiri dari dua kelas, yaitu: kelas IXB (42 siswa) sebagai kelas eksperimen dan kelas IXE (42 siswa) sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar menggunakan model Kooperatif TTW dan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model DI (pembelajaran langsung). Instrumen penelitian terdiri dari instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik kuantitatif untuk menganalisis data kemampuan awal siswa dan hasil belajar siswa yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai hasil belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol, berdasarkan hasil uji-t yang memperoleh thitung. (4,546) > ttabel (1,682). Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari hasil belajar siswa kelas kontrol. Diperoleh nilai rata rata hasil belajar kelas eksperimen (81,45) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar kelas kontrol (75,12) dengan prosentase ketuntasan belajar 88% pada kelas eksperimen dan 64,3% pada kelas kontrol.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe TTW dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar Layanan Internet di SMPN 1 Gondang Tulungagung.
 Kelebihan pembelajaran TTW (Think Talk Write)
Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah:
a)       informasi,
b)       kelompok (membaca-mencatatat-menandai),
c)       presentasi,
d)       diskusi,
e)       melaporkan.

MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA “REALISTIK “


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep. Siswa mengalami kesulitan matematika di kelas. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
                 Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR). Karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, Model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif, dan keterkaitan (intertwinment). Berkaitan dengan hal itu, tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara teoretis pembelajaran matematika realistik, pengimplementasian pembelajaran MR, serta kaitan antara pembelajaran MR dengan pengertian. Pembelajaran Matematika Realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika. Dengan demikian, pembelajaran Matematika Realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa.
1.2 Tujuan
v  Untuk memaparkan secara teoritis pembelajaran Matematika realistic
v  Unuk pengimplementasian pembelajaran Matematika realistic
v  Serta kaitan antara pemelajaran Matematika realistic dengan pengerian.

1.3  Manfaat  
Sangat bermanfat untuk siswa, agar siswa dapa menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika ,sehingga siswa memiliki pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika.
















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Matematika Realistic ( MR)
Matematika Realistik (MR) yang dimaksudkan dalam hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Pembelajaran MR di kelas berorientasi pada karakteristik-karakteristik RME, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan mengaplikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain. Pembelajaran ini sangat berbeda dengan pembelajaran matematika selama ini yang cenderung berorientasi kepada memberi informasi dan memakai matematika yang siap pakai untuk memecahkan masalah-masalah.
Karena matematika realistik menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran maka situasi masalah perlu diusahakan benar-benar kontektual atau sesuai dengan pengalaman siswa, sehingga siswa dapat memecahkan masalah dengan cara-cara informal melalui matematisasi horisontal. Cara-cara informal yang ditunjukkan oleh siswa digunakan sebagai inspirasi pembentukan konsep atau aspek matematiknya ditingkatkan melalui matematisasi vertikal. Melalui proses matematisasi horisontal-vertikal diharapkan siswa dapat memahami atau menemukan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal).
2.2 Pembelajaran Matematika Realistik ( MR) menurut pandangan Konstruktivis
Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivis adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator. Menurut Davis (1996), pandangan konstruktivis dalam pembelajaran matematika berorientasi pada: (1) pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi, (2) dalam pengerjaan matematika, setiap langkah siswa dihadapkan kepada apa, (3) informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan pengalamannya, dan (4) pusat pembelajaran adalah bagaimana siswa berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis.
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998). Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997). Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.
Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest, 1991). Dalam pembelajaran matematika, Cobb, Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism). Siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan. Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME. Konsep ZPD dan Scaffolding dalam pendekatan konstruktivis sosio, di dalam pembelajaran MR disebut dengan penemuan kembali terbimbing (guided reinvention). Menurut Graevenmeijer (1994) walaupun kedua pendekatan ini mempunyai kesamaan tetapi kedua pendekatan ini dikembangkan secara terpisah. Perbedaan keduanya adalah pendekatan konstruktivis sosio merupakan pendekatan pembelajaran yang bersifat umum, sedangkan pembelajaran MR merupakan pendekatan khusus yaitu hanya dalam pembelajaran matematika.
2.3 Bagaimana Implementasi Pembelajaran MR?
Untuk memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran MR, berikut ini diberikan contoh pembelajaran pecahan di sekolah dasar (SD). Pecahan di SD diinterpretasi sebagai bagian dari keseluruhan. Interpretasi ini mengacu pada pembagian unit ke dalam bagian yang berukuran sama. Dalam hal ini sebagai kerangka kerja siswa adalah daerah, panjang, dan model volume. Bagian dari keseluruhan juga dapat diinterpretasi pada ide pempartisian suatu himpunan dari objek diskret.
Dalam pembelajaran, sebelum siswa masuk pada sistem formal, terlebih dahulu siswa dibawa ke “situasi” informal. Misalnya, pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bagian yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga tidak terjadi loncatan pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal). Setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian yang sama, baru diperkenalkan istilah pecahan. Ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan MR) di mana siswa sejak awal dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa jenis pecahan.
Jadi, pembelajaran MR diawali dengan fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri. Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah sehari-hari atau dalam bidang
2.4 Kaitan antara Pembelajaran MR dengan Pengertian
Kalau kita perhatikan para guru dalam mengajar matematika senantiasa terlontar kata “bagaimana, apa mengerti ?” Siswa pun biasanya buru-buru menjawab mengerti atau sudah. Siswa sering mengeluh seperti berikut, “Pak ... pada saat di kelas saya mengerti penjelasan Bapak, tetapi begitu sampai di rumah saya lupa”, atau “Pak ... pada saat di kelas saya mengerti contoh yang Bapak berikan , tetapi saya tidak bisa menyelesaikan soal-soal latihan”
Apa yang dialami oleh siswa pada ilustrasi di atas menunjukkan bahwa siswa belum mengerti atau belum mempunyai pengetahuan konseptual. Siswa yang mengerti konsep atau mempunyai pengetahuan konseptual dapat menemukan kembali konsep yang mereka lupakan.
Mitzel (1982) mengatakan bahwa, hasil belajar siswa secara langsung dipengaruhi oleh pengalaman siswa dan faktor internal. Pengalaman belajar siswa dipengaruhi oleh unjuk kerja guru. Bila siswa dalam belajarnya bermakna atau terjadi kaitan antara informasi baru dengan jaringan representasi maka siswa akan mendapatkan suatu pengertian. Mengembangkan pengertian merupakan tujuan pengajaran matematika. Karena tanpa pengertian orang tidak dapat mengaplikasikan prosedur, konsep, ataupun proses. Dengan kata lain, matematika dimengerti bila representasi mental adalah bagian dari jaringan representasi (Hiebert dan Carpenter , 1992).
Umumnya, sejak anak-anak orang telah mengenal ide matematika. Melalui pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari mereka mengembangkan ide-ide yang lebih kompleks, misalnya tentang bilangan, pola, bentuk, data, ukuran dsb. Anak sebelum sekolah belajar ide matematika secara alamiah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa datang ke sekolah bukanlah dengan kepala “kosong” yang siap diisi dengan apa saja. Pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih bermakna bila guru mengaitkan dengan apa yang telah diketahui anak.
Pengertian siswa tentang ide matematik dapat dibangun melalui sekolah, jika mereka secara aktif mengaitkan dengan pengetahuan mereka. Hanna dan Yackel (NCTM, 2000) mengatakan bahwa belajar dengan pengertian dapat ditingkatkan melalui interaksi kelas. Percakapan kelas dan interaksi sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan keterkaitan di antara ide-ide dan mengorganisasikan pengetahuan kembali.
Pembelajaran MR memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realistik yang diberikan oleh guru. Situasi realistik dalam masalah memungkinkan siswa menggunakan cara-cara informal untuk menyelesaikan masalah. Cara-cara informal siswa yang merupakan produksi siswa memegang peranan penting dalam penemuan kembali dan pengkonstruksian konsep. Hal ini berarti informasi yang diberikan kepada siswa telah dikaitkan dengan skema (jaringan representasi) anak. Melalui interaksi kelas keterkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat sehingga pengertian siswa tentang konsep yang mereka konstruksi sendiri menjadi kuat. Dengan demikian, pembelajaran MR akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa.






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka sebagai simpulan dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut.
Matematika Realistik (MR) merupakan matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Pembelajaran MR menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran, dan melalui matematisasi horisontal-vertikal siswa diharapkan dapat menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan menerapkan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain. Dengan kata lain, pembelajaran MR berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari (everydaying mathematics), sehingga siswa belajar dengan bermakna (pengertian).
Pembelajaran MR berpusat pada siswa, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator, sehingga memerlukan paradigma yang berbeda tentang bagaimana siswa belajar, bagaimana guru mengajar, dan apa yang dipelajari oleh siswa dengan paradigma pembelajaran matematika selama ini. Karena itu, perubahan persepsi guru tentang mengajar perlu dilakukan bila ingin mengimplementasikan pembelajaran matematika realistik.
3.2 Saran
Sesuai dengan simpulan di atas, maka disarankan: (1) kepada pakar atau pencinta pendidikan matematika untuk melakukan penelitian-penelitian yang berorientasi pada pembelajaran MR sehingga diperoleh global theory pembelajaran MR yang sesuai dengan sosial budaya Indonesia, dan (2) kepada guru-guru matematika untuk mencoba mengimplementasikan pembelajaran MR secara bertahap, misalnya mulai dengan memberikan masalah-masalah realistik untuk memotivasi siswa menyampaikan pendapat.
















DAFTAR PUSTAKA

Atwel, Bleicher & Cooper.1998. “The Construction of The Social Contex of Mathematics Clasroom : A Sociolonguistic Analysis”. Dalam Journal for Research in Mathematics Education. Vol 29 No.1 January 1998.hal 63-82
Soedjadi. 2000. “Nuansa Kurikulum Matematika Sekolah Di Indonesia”. Dalam Majalah Ilmiah Himpunan Matematika Indonesia (Prosiding Konperensi Nasional Matematika X ITB, 17-20 Juli 2000)
Slavin,R. 1997. Educational Psychology Theory and Practice. Fifth Edition. Boston : Allyn and Bacon.
Slettenhaar. 2000. “Adapting Realistic Mathematics Education in the Indonesian Context”. Dalam Majalah Ilmiah Himpunan Matematika Indonesia (Prosiding Konperensi Nasional Matematika X ITB, 17-20 Juli 2000
Streefland,L. 1991. Realistic Mathematics Education in Primary School. Freudenthal Institute. Utrecht.

Peluang Usaha Budidaya Tomat



Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat juga adalah komoditas yang multiguna berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik, obat-obatan dan bahan baku industri saus. Dengan tehnik budidaya tomat yang baik diharapkan kualitas dan kuntitas produksi tomat dapat ditingkatkan sehingga dapat dijadikan sebagai sebuah peluang usaha yang menjanjikan.

Klasifikasi tanaman tomat adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Lycopersicorn
Spesies : Lycopersicon esculentum Mill.
Dari sekian banyak varietas tomat yang ada, yang banyak ditanam petani adalah tomat varietas ratna, berlian, precious 206, kingkong dan intan. Sedangkan dari hasil survei yang telah dilakukan di lapangan varietas yang digunakan adalah varietas Artaloka.


Syarat Tumbuh Tanaman Tomat

Tanaman tomat dapat tumbuh disemua tempat dari dataran rendah sampai datarn tinggi. Hanya saja di daerah basah atau curah hujan tinggi pertumbuhannya kurang baik. Disamping buahnya banyak diserang panyakit, seperti penyakit cendawan dan sebangsanya, sehingga untuk daerah basah dan berudara lembab dianjurkan menanam tomat pada musim kemarau. Selanjutnya tanaman tomat tidak tahan terhadap hujan yang lebat dan tidak suka daerah yang selalu berawan. Tanaman tomat menghendaki iklim kering dengan suhu siang 18 -27 oC dan malam hari 15 -20 oC.

Tanaman tomat tidak cocok tumbuh pada tanah yang tergenang air atau tanah yang becek. Untuk pertumbuhan yang baik, tanaman tomat membutuhkan tanah yang gembur dengan pH 5 -6, tanah sedikit gembur dan banyak mengandung humus serta pengairan yang cukup mulai tanam sampai waktu panen.

Budidaya tanaman tomat membutuhkan penyinaran penuh sepanjang hari untuk produksi yang menguntungkan, tetapi sinar matahari yang terik tidak disukai. Selanjutnya bahwa sinar matahari yang dikehendaki tanaman tomat adalah minimal 8 jam per hari dan curah hujan pada kisaran 750 -1.250 mm/tahun.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah budidaya tomat dilakukan dengan sistem semi konvensional (10 -15 cm) yang berguna untuk mencegah terjadinya penguapan yang berlebihan. Lahan yang telah diolah diberikan pupuk kandang.

Pembibitan dan Penanaman

Pembibitan dilakukan dengan menggunakan perbandingan 2 bagian tanah dan 1 bagian pupuk kandang. Setelah 3-4 minggu pembibitan (4 helai daun) maka bibit siap dipindahkan kelapangan. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 0,60 m x 0,75 m.


Pemupukan

Pemupukan dilakukan untuk menjaga keseimbangan hara didalam tanah sehingga dapat mencapai hasil produksi yang optimal. Selain dilakukan pemupukan melalui tanah maka tanaman tomat juga dilakukan pemupukan melalui daun. Pemupukan melalui daun mempunyai kelebihan jika dibandingkan pemupukan melalui tanah, yaitu larutan hara tanaman yang diberikan akan segera terserap dengan sempurna baik hara makro maupun hara mikro. Umumnya pupuk yang diberikan melalui daun terdiri dari unsur hara makro dan unsur hara mikro.

Pemberian pupuk melalui daun akan menghindari persaingan pengambilan unsur hara antara tanaman tomat dengan tanaman lainnya seperti tanaman pengganggu. Pemupukan melalui daun merupakan penambahan dan penyempurnaan pemberian pupuk melalui tanah. Hal ini terutama pada keadaan tertentu, misalnya dalam keadaan tanaman kurang air, maka pemberian pupuk daun akan lebih baik, karena unsur hara yang terdapat ditanah kurang tersedia karena proses kelarutannya yang kecil.

Selain keuntungannya, tentu ada juga kekurangannya dari pupuk ini antara lain bila diberikan dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan bagi tanaman. Tidak baik bila diberikan dalam kondisi hujan karena akan terjadi pencucian unsur hara sebelum diserap oleh tanaman. Konsentrasi pupuk yang digunakan harus sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman, karena jika berlebihan akan menyebabkan tanaman menjadi layu yang akan menyebabkan kematian bagi tanaman.

Dalam budidaya tomat, pengaplikasian hara melalui daun, yang perlu diperhatikan antara lain konsentrasi pupuk dan waktu pemberian yang tepat. Menyemprotan pupuk daun harus dihentikan pada saat tunas baru muncul sebab tunas muda ini sangat peka terhadap pupuk terlebih jika konsentrasi melebihi konsentrasi anjuran.

Pupuk yang digunakan untuk budidaya tanaman tomat adalah urea, TSP dan KCl dengan dosis masing-masing 250 kg/ha, 150 kg/ha dan 150 kg/ha. Kemudian bibit umur 2 minggu setelah tanam dilakukan penyemprotan pupuk cair Green Agro dan dilanjutkan 14 hari kemudian hingga akhir panen keempat. Interval waktu pemberian pupuk cair ini dianjurkan 1 -2 minggu sekali dengan konsentrasi 20 ml/liter air untuk tanaman semusim.


Kandungan hara pupuk cair ini adalahsebagai berikut :N = 8900 Mg/L, P2O2 = 7000 Mg/L, K2O = 26.500 Mg/L, Mg = 2900 Mg/L, Ca = 7850 Mg/L, Fe = 4000 Mg/L, Mn = 155 Mg/L, Bo = 55 Mg/L, Cu = 55 Mg/L, Zn = 60 Mg/L dan Mo = 3 Mg/L.

Pemeliharaan

Pemeliharaan, meliputi penyiraman, penyulaman, pemasangan ajir, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan menggunakan Decis dan Dithane M-45.

Pemanenan

Pemanenan dilakukan pada saat buah telah memenuhi kriteria panen yaitu buah telah berwarna kemerah-merahan sampai merah dan bentuknya padat. Panen dilakukan 4 kali dengan interval waktu 5 kali sehari. Buah siap dikemas dan dipasarkan.
Hasil Pencarian Anda di http://BinaUKM.com :
budidaya tomat (18), tomat ratna (7), klasifikasi tomat (6), budidaya tanaman tomat (5), usaha budidaya tomat (5), pemupukan tomat (4), budidaya usaha tomat (4), pembibitan tomat (4), pupuk yang bagus untuk tomat (4), prospek bisnis tanaman tomat (4), Bisnis tomat (3), syarat tumbuh tomat (3), keunggulan tomat varietas ratna (3), pemupukan pada tomat (3), prospek budidaya tomat (3), tehnikbudidayatomat (2), tanaman tomat varietas ratna (2), proses menanam dan memproduksi tomat (2), pembibitan tanaman tomat (2), konsentrasi pupuk Ca yang cocok untuk tanaman tomat (2), komposisi pemberian pupuk cair pada tanaman tomat (2), kandungan hara tanaman (2), KONSENTRASI PUPUK MIKRO LEWAT DAUN (2), klasifikasi tanaman tomat (2), pupuk yang digunakan pada tanaman sayur (2), makalah budidaya tomat (2), Pupukyang paling bagus untuk tanaman (2), makalah pemupukan pada tanaman tomat (2), panen dalam usaha budidaya tanaman tomat (2), interval pemberian pupuk (2), usaha tomat (2), usaha budidaya tanaman tomat (2), budi daya tomat (2), PELUANG USAHA budidaya tomat (2), budidaya tomat buah (2), pengolahan tanah tanaman tomat (2), ph tanah terbaik untuk tanaman tomat (1), pupuk daun sampurna (1), pupuk budidaya tomat (1), pupuk kandang menguntungkan bagi tanaman melon karena (1), Pupuk daun pada tanaman tomat (1), pertumbuhan tomat yang baik (1), pupuk kandang menguntungkan bagi tanaman melon sebagai (1), pertumbuhan tomat sayur (1), pertumbuhan tomat (1), tanah yang baik buat tomat (1), perkebunan tomat (1), peper budidaya tanaman cabei (1), proses produksi terhadap tanaman tomat (1), ph tanah yng cocok untuk tomat (1), produksi pada tanaman tomat (1), prospek agribisnis tomat (1), prospek bisnis budi daya tomat (1), prospek bisnis pertanian tomat (1), prospek ekonomi budidaya tomat (1), produktifitas tanaman kobis dengan pupuk kandang (1), produksi tanaman tomat (1), prospek usaha tanaman tomat (1), PROSPEK TANAM TOMAT (1), Prospek Usaha Tomat (1), produksi pertanian tomat (1), pupok yangbaik utok tanama tomat (1), pupuk apa yg baik untuk budidaya tomat dan cabai (1), penyinaran sepanjang hari (1), pupuk apa yg baik untuk tomat (1), pupuk berlebihan tanaman layu (1), Pupuk kimia apa yang co2k untuk tanaman cabe (1), zat yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tomat (1), unsur hara tanaman tomat (1), unsur apa yang terkandung dalam air hujan sehingga baik untuk tanaman (1), umur tomat varietas ratna (1), umur panen varietas ratna (1), Trik Pupuk kimia buat tanaman cabe (1), tomat#hl=id (1), tomat varietas kingkong (1), tomat varietas berlian dan